Hari ini saya ingin menceritakan kisah seorang trader senior. Bukan karena tokoh utamanya hebat, justru sebaliknya, dia orang yang sangat apa adanya, selalu bilang "saya tidak bisa". Justru sikap hidup seperti inilah yang membuat hidupnya penuh peluang.
Dalam kisah pribadi saya, saya pernah menulis tentang Kakak Emas, yang kehilangan dua rumah tapi berhasil bangkit. Saya juga pernah menulis tentang Guru Ronnie, yang menggambar K-line selama dua tahun untuk menemukan aturannya sendiri.
Sedangkan tokoh kita hari ini, Zhou Wei, sepertinya tidak punya pengalaman yang "penuh lika-liku". Dia sudah 17 tahun berkecimpung di dunia trading, dan dia bilang dia "tidak pernah berharap untuk profit konsisten".
Kalau diucapkan orang lain, itu mungkin sekadar basa-basi. Tapi dari mulutnya, itu benar-benar jujur. Mari kita simak kisah Guru Zhou.
Dalam wawancara, ada yang bertanya apakah dia pernah berpikir untuk membuat akunnya terlihat lebih baik. Dia menjawab, "Sulit. Saya tidak mau membuat terlalu banyak perubahan. Ada yang menganggap saya keras kepala, tapi saya merasa ini sudah baik."
Lalu dia mengucapkan kalimat yang saya putar ulang berkali-kali — "Sekarang hidup saya lumayan nyaman. Keinginan saya terhadap uang dan ambisi karier lebih lemah dari orang lain. Ini kunci kemenangan saya!"
Ada yang menindaklanjuti: Bagaimana kalau ada yang memaksa Anda?
Jawabannya bikin saya langsung tertawa. Dia bilang, usia sudah tua, tenaga tidak cukup. Kalau begadang hari ini, besok rasanya nyawa mau melayang. Jadi, yang penting jalani semuanya dengan biasa saja.
Lalu dia melontarkan kalimat yang sangat klasik — "Waktu muda, melawan angin pun masih bisa kencing jauh. Sekarang sudah tidak bisa lagi. Umur empat puluhan, banyak hal yang terpaksa, banyak yang tidak sanggup."
Gimana? Orang ini beda banget sama kebanyakan orang, kan? Sebenarnya, kita semua pada akhirnya harus berdamai dengan ambisi kita sendiri. Ada yang cepat berdamai, ada yang sampai mati pun tidak mau. Zhou Wei jelas termasuk yang pertama, dan dia sangat lapang dada sehingga orang tidak tega menertawakannya. Karena dia orang yang sangat membumi.
Alasan saya bilang dia membumi adalah karena filosofi tradingnya sangat unik. Sepanjang wawancara, konsep inti Zhou Wei adalah "menabung sedikit demi sedikit, menuai hasil di kemudian hari" (零存整取).
Dia bilang, dia berbeda dari trader-trader hebat lainnya. Tidak ada kisah legendaris, tidak ada sistem trading yang besar dan lengkap. Kebijakan makro tidak paham, data ekonomi tidak bisa dibaca, kejadian tak terduga tidak bisa dihadapi. Dia bilang, "IQ saya tidak tinggi, saya tidak bisa melakukan hal-hal seperti itu." Tapi dia punya caranya sendiri.
Dia membagi modalnya menjadi banyak bagian, masing-masing hanya diisi sedikit. Kalau salah, cut loss. Kalau menang, tambah sedikit. Kalau ada potensi, naikkan satu level. Taruh telur di banyak keranjang, masih ada kesempatan untuk terus maju. Dengan begitu, bisa rugi sedikit dan untung banyak.
"Saya punya kayu kering, saya tidak percaya saya tidak bisa menyalakan api besar ini." Itulah moto pribadi Guru Zhou. Saya sendiri juga mencatat kalimat ini.
Ini bukan teori trading yang rumit, tapi justru kalimat inilah yang paling menyentuh saya. Karena ini adalah sesuatu yang bisa dipahami dan dilakukan oleh orang biasa. Tidak bertaruh semua dalam satu kali, tidak berfantasi menang besar dalam sekali gebrakan. Perbesar peluang toleransi kesalahan, pelan-pelan mengasah, pelan-pelan menunggu.
Kita sering mendengar kisah-kisah legendaris, lalu merasa kita juga akan seperti itu. Tapi di lingkungan yang sebenarnya, orang yang benar-benar menghasilkan uang justru orang-orang seperti Zhou Wei. Dia juga orang yang bisa kita tiru, yang bisa kita pelajari untuk menghasilkan uang.
Yang disebut long-termism itu, kadang bukan karena kita punya visi jauh ke depan, tapi karena kita tahu kita tidak punya banyak kesempatan untuk kalah. Jadi, setiap kali menghadapi peluang, kita jadi lebih berhati-hati.
Ada satu bagian dalam wawancara yang saya tulis dengan sangat serius. Zhou Wei bilang, awalnya dia juga mengalami tekanan psikologis yang sangat berat. Rasanya trading menyiksa setiap hari, bukan hanya menghancurkan, tapi juga menggosok-gosokkan ke tanah, bahkan mempermalukan, bikin rugi banyak.
Dia juga pernah mengalami, tengah malam ada barang jatuh di lantai atas, suaranya langsung menusuk ke ubun-ubun. Dia breakdown, tidak tahan, lalu pergi ke rumah sakit. Dokter mendiagnosisnya dengan gangguan kecemasan.
Tentu saja, saat itu dia tidak mau mengakuinya. Pulang ke rumah, obatnya langsung dibuang. Tapi setelah lebih dari setahun, dia akhirnya mengakui, dan dengan inisiatif sendiri pergi mengambil obat lagi.
Sejujurnya, saat menulis bagian ini, perasaan saya sangat tidak enak. Kebanyakan orang menceritakan kisah trading dengan gaya "saya berhasil bertahan" atau "saya mengalahkan rasa takut" — tapi Zhou Wei tidak. Dia dalam kondisi yang sangat biasa. Dia digosok-gosokkan ke tanah oleh rasa takutnya, lalu dipaksa menerima kekalahan, bahkan sampai minum obat.
Tidak ada heroisme, hanya kenangan yang jujur dan membumi. Mengakui bahwa kita tidak sanggup bertahan, kadang butuh keberanian yang lebih besar daripada sekadar bertahan mati-matian.
Zhou Wei punya cara berpikir trading yang khas, meski sangat sederhana. Tapi saat dia membahas strategi martingale, nada bicaranya tiba-tiba menjadi tajam.
Dia bilang, "Kenapa ada orang yang sebodoh itu? Menggali lubang untuk mempercepat kematiannya sendiri, sampai akhirnya mengubur dirinya sendiri. Martingale itu, saat rugi, terus menambah posisi. Semakin rugi, semakin beli, sampai harga berbalik dan balik modal sekaligus. Kedengarannya masuk akal, kan? Tapi Zhou Wei menganggap ini sebagai menambah posisi terus-menerus pada hal yang salah, mempercepat kematian. Floating loss-nya besar, profitnya cuma tipis."
Tapi kemudian dia sadar — EA itu alat. Kalau kita ingin dia bekerja 24 jam nonstop untuk menghasilkan uang, itu jelas bukan masalah EA, tapi masalah manusianya. Saat itulah dia tiba-tiba menjadi dewasa. Dia tahu alat itu netral, yang bodoh adalah orang yang menganggap alat sebagai juru selamat.
Zhou Wei berbagi, setiap kali dia entry, dia selalu menggunakan metode mundur. Yaitu, pertama-tama dia tentukan mau profit berapa, lalu hitung mundur berapa risiko yang bisa dia tanggung, baru hitung berapa modal yang harus dikeluarkan, berapa ruang yang harus diambil, berapa persiapan yang dibutuhkan, dan berapa besar "perang" yang akan dijalani.
Lalu ada yang bertanya, kalau target take profit-nya 50 ribu, floating profit sudah mencapai 40 ribu lebih, apakah dia akan keluar lebih awal?
Jawabannya menarik. Dia bilang, kalau murni trading, sebagian besar kasus dia akan keluar. Tapi kalau ada pikiran lain yang bercampur, misalnya anaknya mau bayar biaya les bela diri, dan butuh tepat 50 ribu, maka dia bisa jadi keras kepala, memaksa harus sampai 50 ribu. Dan sering kali karena itu, profitnya malah turun, naik turun seperti roller coaster.
Sejujurnya, bagian ini sebenarnya juga pernah saya pikirkan. Saya juga menyadari, keras kepala itu bukan bawaan lahir, tapi tumbuh dari diri kita sendiri.
Kalau kita butuh uang itu, menunggu harapan itu, ada sesuatu yang kita nantikan, maka kita jadi tidak tega untuk keluar. Begitu kita tidak tega keluar, pasar akan mengajari kita.
Sebenarnya kita semua tahu, semua paham. Tapi kalau disuruh orang yang sedang menunggu uang untuk bayar sekolah anaknya untuk take profit lebih awal dan kehilangan beberapa ribu, kita tidak akan sanggup. Itulah sifat manusia.
Guru Zhou Wei pernah meraih hasil bagus di kompetisi trading. Ada yang bertanya, kenapa dalam keseharian dia tidak bisa mencapai level fokus seperti itu?
Jawabannya juga sangat realistis. Dia bilang, kompetisi itu jangka pendek. Fokuskan energi, gigit jari sebentar saja. Itu banyak orang bisa melakukannya. Tapi trading harian dalam kehidupan sehari-hari, hari demi hari, tahun demi tahun, mustahil untuk selalu tegang setiap hari. Jadi, mentalnya jadi lebih longgar, kurang bisa menahan diri, sering kali terlalu santai. Sampai di sini, saya merasa orang ini benar-benar bijak. Tidak banyak basa-basi, tapi bisa melihat segala sesuatu dengan lapang dada dan jelas, baik itu trading maupun dirinya sendiri.
Ada yang bertanya: Setelah 17 tahun trading, apakah pernah meragukan diri sendiri, merasa tidak cocok di dunia trading? Zhou Wei menjawab dengan tegas, "Tidak."
"Kalau kamu sangat meragukan diri sendiri, tidak punya keyakinan dasar bahwa kamu bisa, maka pasar ini tidak akan bisa kamu taklukkan. Kamu harus tahu bahwa kamu bisa, dan masih ada peluang. Kalau terus-menerus ragu pada diri sendiri, sulit untuk berhasil," kata Zhou Wei.
Kalimat ini kontras dengan apa yang dia katakan di awal: "Saya tidak bisa", "IQ saya tidak sampai 100 lebih", "Saya tidak punya kisah legendaris". Kontras yang unik.
Dia mengakui kemampuannya terbatas, mengakui keras kepalanya, mengakui mungkin tidak bisa menghasilkan uang besar, mengakui tidak punya kisah legendaris. Tapi dia tidak pernah meragukan bahwa dia harus tetap berada di pasar ini, untuk mencari kebahagiaan kecil dan karier yang menjadi miliknya.
Ini bukan kepercayaan diri yang buta, tapi gaya hidup dan sikap yang lebih sederhana. Saya tahu saya seperti apa, saya juga tahu pasar seperti apa. Saya tidak bisa mengubah banyak hal, tapi saya bisa menikmati proses ini, mendapatkan apa yang saya inginkan. Tidak serakah, tidak terburu-buru, tidak gelisah. Punya kayu kering di tangan, dan api yang tak pernah padam di hati.
Kira-kira itulah alasan mengapa seseorang bisa bertahan 17 tahun di pasar dan tetap stabil. Zhou Wei adalah orang yang langka di dunia trading. Tapi justru orang seperti inilah yang membuat banyak orang merasa penasaran, merasa ada harapan, dan merasa bahwa bertahan terus di dunia ini ternyata juga tidak buruk!